Minggu, Desember 27, 2009

Bab 4 : Pemuda & Sosialisasi

Pemuda adalah generasi penerus dari generasi terdahulu. Anggapan itu merupakan beban moral yang ditanggung bagi pemuda untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan generasi tua. Selain memikul beban tersebut pemuda juga dihadapkan persoalan-persoalan diantaranya kenakalan remaja, ketidak patuhan pada orang tua/guru, kecanduan narkotika, frustasi, masa depan suram, keterbatasan lapangan kerja dan masalah lainnya. Seringkali pemuda dibenturkan dengan “nilai” yang telah ada jika mereka berkelakuan di luar nilai tersebut.


Munculnya jurang pemisah antara generasi muda dan generasi tua merupakan akibat dari benturan dua kebudayaan yaitu tradisional dan modern. Dimana budaya tradisional itu dianut oleh generasi tua yang terdahulu dan budaya modern dikembangkan oleh generasi muda yang telah tercium arus globalisasi dengan tujuan untuk mengadakan perubahan-perubahan yang lebih baik dari generasi orang tua. Perkembangan dengan tidak adanya kematangan/kedewasaan mental dan arahyang baik maka dapat menimbulkan masalah seperti pada penyalahgunaan telephon genggam (mobile phone) atau sering juga disebut HP, dengan adanya pembaharuan-pembaharuan dari alat komunikasi ini menjadikan fungsi HPmenjadi barang prestise dalam pergaulan anak muda jika tidak menggunakan HP model baru dapat dikatakan “kuno” atau “ketinggalan jaman”. Selain itu semakin canggihnya fungsi HP yang dapat digunakan mengambil foto dan merekam gambar yang bergerak sering kali dipersalah gunakan untuk merekam gambar dan film porno.

Orangt tua mempunyai kebiasaan dalam mendidik anak yaitu dengan menurunkan nilai-nilai budaya dan penerusan kebiasaan mereka. Dewasa ini pemuda seringkali mengambil langkah sendiri dalam menjalani hidupnya tanpa menghiraukan pendidikan yang diberikan orang tuanya. Hal ini dikarenakan adanya anggapan dari pemuda bahwa apa yang diberikan oleh orang tua adalah suatu hal yang kuno. Adanya perbedaan situasi kehidupan dan banyaknya perubahan-perubahan yang terjadi memposisikan pendidikan yang diberikan orang tua sudah ketinggalan jaman. Selain itu lebih tingginya pendidikan anak dari orang tuamemberikan keyakinan bahwa anak dapat memutuskan jalan hidupnya sendiri karena mereka merasalebihmengerti dan tahu bagaimana menjalani hidupnya sendiri.

Bab 3 : Individu, Keluarga dan Masyarakat

Aspek individu, keluarga, masyarakat dan kebudayaan adalah aspek-aspek sosial yang tidak bisa dipisahkan. Keempatnya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Tidak akan pernah ada keluarga, masyarakat maupun kebudayaan apabila tidak ada individu. Sementara di pihak lain untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka individu membutuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media di mana individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya. Di samping itu, individu juga membutuhkan kebudayaan yakni wahana bagi individu untuk mengembangkan dan mencapai potensinya sebagai manusia.


Lingkungan sosial yang pertama kali dijumpai individu dalam hidupnya adalah lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan kapasitas pribadinya. Di samping itu, melalui keluarga pula individu bersentuhan dengan berbagai gejala sosial dalam rangka mengembangkan kapasitasnya sebagai anggota keluarga. Sementara itu, masyarakat merupakan lingkungan sosial individu yang lebih luas. Di dalam masyarakat, individu mengejewantahkan apa-apa yang sudah dipelajari dari keluarganya. Mengenai hubungan antara individu dan masyarakat ini, terdapat berbagai pendapat tentang mana yang lebih dominan. Pendapat-pendapat tersebut diwakili oleh Spencer, Pareto, Ward, Comte, Durkheim, Summer, dan Weber. Individu belum bisa dikatakan sebagai individu apabila dia belum dibudayakan. Artinya hanya individu yang mampu mengembangkan potensinya sebagai individulah yang bisa disebut individu. Untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya ini atau untuk menjadi berbudaya dibutuhkan media keluarga dan masyarakat.

Bab 2 : Penduduk, Masyarakat dan kebudayaan


Masyarakat adalah sekumpulan individu yang mengadakan kesepakatan bersama untuk secara bersama-sama mengelola kehidupan. Terdapat berbagai alasan mengapa individu-individu tersebut mengadakan kesepakatan untuk membentuk kehidupan bersama. Alasan-alasan tersebut meliputi alasan biologis, psikologis, dan sosial. Pembentukan kehidupan bersama itu sendiri melalui beberapa tahapan yaitu interaksi, adaptasi, pengorganisasian tingkah laku, dan terbentuknya perasaan kelompok. Setelah melewati tahapan tersebut, maka terbentuklah apa yang dinamakan masyarakat yang bentuknya antara lain adalah masyarakat pemburu dan peramu, peternak, holtikultura, petani, dan industri. Di dalam tubuh masyarakat itu sendiri terdapat unsur-unsur persekutuan sosial, pengendalian sosial, media sosial, dan ukuran sosial. Pengendalian sosial di dalam masyarakat dilakukan melalui beberapa cara yang pada dasarnya bertujuan untuk mengontrol tingkah laku warga masyarakat agar tidak menyeleweng dari apa yang telah disepakati bersama. Walupun demikian, tidak berarti bahwa apa yang telah disepakati bersama tersebut tidak pernah berubah. Elemen-elemen di dalam tubuh masyarakat selalu berubah di mana cakupannya bisa bersifat mikro maupun makro.


Apa yang menjadi kesepakatan bersama warga masyarakat adalah kebudayaan, yang antara lain diartikan sebagai pola-pola kehidupan di dalam komunitas. Kebudayaan di sini dimengerti sebagai fenomena yang dapat diamati yang wujud kebudayaannya adalah sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari serangkaian tindakan yang berpola yang bertujuan untuk memenuhi keperluan hidup. Serangkaian tindakan berpola atau kebudayaan dimiliki individu melalui proses belajar yang terdiri dari proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.

Bab 1 : ISD Sebagai salah satu MKDU

Ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah masalah sosial khususnya yang diwujudkan oleh maskyarakat indoenesia dengan menggunakan pengertian pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari sebagian bidang pengetahuan kalian dalam laapangan ilmu ilmu sosial seperti sejarah, ekonomi, geogrfi sosial, sosiaologi, antropologi sosial


Berdasarkan ilmu filsafat yag dianggap sebagai ibu jari dari ilmu peetahuan, maka ilmu pengetahuan dadapat di kelmpokkan menjadi 3 kelompok:

a. Natural science (ilmu ilmu alamiah), meliputi : Fisika, kimia, astronomi, biologi dan lain lain

b. Sosial science (ilmu ilmu sosial), yang terdiri dari : sosiaologi Ekonomi, politik, antropologi, sejarah, psikologi, geografi, dan lain lain

c. Humanities (ilmu ilmu budaya) meliputi : bahasa, agama, kesusastraan, kesenian, dan lain lain.

Mengikuti pembagian ilmu diatas maka Ilmu sosial dasar dan ilmu budaya dasar adalah satuan pengetahuan yang dikembangkan ebagai usaha pendidikan.


ISD tidak merupakan gabungan dari ilmu ilmu sosial yang di padukan karena masing masing sebagai disiplin ilmu yang memiliki objek dan metode ilmiahnya sendiri sendiri yang tidak mungkin dipadukan .


ISD merupakan suatu bahan study atau program pengerjaan yang khuus di rancang untuk kepentingan pendidikan/ pengajaran di indonesia yang di berikan di perguruan tinggi.


Jadi mata kuliah ilmu sosial dasar diberikan dalam rangka usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep konsep yang di kembangkan guna megkaji masalah masalah sosial.

Senin, Oktober 19, 2009

Peranan Dan Pentingnya Bahasa Indonesia

Pada saat ini bahasa Indonesia sudah mulai kehilangan perannya. Sebagaimana sumpah pemuda sudah dengan jelas menyebutkan bahwa berbahasa satu bahasa Indonesia. Maka dengan itu Bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatu. Hal tersebut sudah mulai pudar karena bahasa Inggris sedikit demi sedikit mulai "menodai" bahasa Indonesia. Banyak kata-kata English yang sengaja disisipkan kedalam bahasa Indonesai, sebagai contoh adalah kalimat "saya mau you membantu saya". Mungkin sebagian orang menganggap itu merupakan hal yang keren, tapi secara tidak sadar mereka yang telah mensisipkan bahasa Inggris kedalam sebuah kalimat bahasa Indonesia sudah menodai bahasa Indonesia itu sendiri. Contoh lainnya adalah penyempitan makna pada kata "aqua" dan "odol". Contoh kata "aqua" dimana hampir semua orang setiap kali ingin membeli air minum selalu menyebut membeli "aqua". Padahal belum tentu air minum yang dibeli adalah aqua karena "aqua" merupakan sebuah merk dagang. Hal yang sama juga terjadi pada kata "odol" yang seharusnya pasta gigi.
Pengaruh tersebut berkaitan juga dengan tingkat kesadar pemerintah, media masa dan masyarakat tentang pentingnya bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatu.

Kamis, Oktober 15, 2009

Trik Untuk Meningkatkan Kecepatan Internet

Secara default Windows sebenarnya juga mengurangi bandtwith kita sebesar 20%, 20% ini digunakan window untuk mendownload update untuk window.

Ikuti langkah-langkah berikut :
1. klik Start --> Run
2. ketik gpedit.msc, lalu akan muncul Windows Policy
3. lalu pilih Local Computer Policy --> Computer Configuration --> Administrative Templates --> Network --> QOS Packet Scheduler
4. kemudian di tampilan kanan pilih "Limit Reservable Bandwidth", disitu tertulis "Not Configured" - doubel klik (ada tampilan baru, "Limit reservable bandwidth Properties)
5. pilih "Enabled" lalu ganti 20 % menjadi 0%

selamat mencoba . . .

sumber : cimahi-one.com

Minggu, September 27, 2009

Hal yang mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia saat ini menjadi bahasa nasional negara kita. Tetapi masih banyak masyarakat yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari, hal tersebut terjadi karena negara Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa. Pengaruh bahasa asing dari luar juga sangat berperan serta dalam mulai diabaikannya bahasa Indonesai. Pemerintah dalam hal ini telah melakukan tindakan dengan memasukan pelajaran Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum pembelajaran sekolah. Namun menurut saya itu saja tidaklah cukup selama pembangunan di Indonesia yang tidak merata.

Sejak Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober s.d. 2 November 1954 yang menghasilkan satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara. Setelah kongres tersebut belum ada lagi pertemuan-pertemuan yang membahas bagaimana kritisnya bahasa Indonesia saat ini. Memang kita masih membutuhkan orang-orang seperti Ki Hajar Dewantara yang sangat bersemangat untuk melesatarikan bahasa Indonesia.